Mereka yang terpilih.
Terdengar begitu
terhormat, walaupun nyatanya tidak.
“Aku bisa berjalan
sendiri,” tukasnya pada sosok bersayap hitam (yang akhirnya ia ketahui disebut
Hvyt) sembari menepis lengan berbuku tebal sosok tersebut yang tengah berusaha menariknya
ke suatu tempat. Oh, tidak hanya ia seorang yang digiring seperti ternak, namun
ada lima puluh empat lagi yang bernasib sama dengannya, bahkan tak jarang ada
yang memberontak walaupun hal itu sia-sia. Istilah ‘Yang Terpilih’ kini
terkesan seperti kumpulan domba kualitas tinggi yang diseleksi dari sebuah
populasi untuk dipaksa menari di atas bara api sebelum dijagal. Lucu sekali.
Pemuda bertanduk
itu mendongak. Kecubung kembarnya menatap sesuatu yang mirip papan tulis
raksasa tembus pandang, berwarna merah dan berpendar di langit. Melayang seakan
ada tali tak kasat mata yang menyangganya agar tetap berada di sana dan tidak
jatuh. Lima nama terurut dalam sebuah kotak, keseluruhannya ada sebelas kotak.
Beberapa jenak ia lalui dengan menyisir nama-nama tersebut sambil berjalan
pelan, lalu ia mendapati namanya berada di kolom 1-H bersama empat nama lain
yang tak ia kenali.
Lulu Chronos, Petra
Arcadia, Quin El-Fathin, dan Primo Trovare.
Semua hal yang
terjadi di tempat ini tidak begitu jelas. Namun, satu hal yang jelas, ia sudah
mati—menurut perkataan entitas bernama Thurqk yang mengaku sebagai pencipta
alam semesta. Fakta bahwa ia ingat bagaimana dirinya mati dan sekarang merasa
sangat hidup, merupakan salah satu bukti kalau Thurqk bukanlah insan sembarangan
yang punya sindrom God Wannabe. Thurqk,
dengan tatapan penuh kebosanan dan sikap yang terlihat masa bodoh, punya
kekuatan besar yang melampaui nalarnya. Amat besar, hingga Zach dapat merasakan
aura menekan yang tidak mengenakkan hanya dengan mendengar gema suaranya.
Kerumunan ‘Yang
Terpilih’ lalu membentuk kelompok kecil, lima-lima. Mereka digiring ke sebuah
kuil besar yang amat luas, cukup untuk disesaki ribuan orang. Mereka semua
diminta diam, walaupun hal itu akan sulit dilakukan. Ucapan sahut menyahut,
lama-lama menjadi dengungan yang cukup gaduh.
Di bloknya, empat
orang lain berdiri bersisian dengan satu Hvyt berada di belakang mereka. Zach
mengerling dari ekor matanya, hal yang sama dilakukan oleh keempat lainnya;
mengamati dan menilai. Mereka membisu bersamaan dengan surutnya dengungan gaduh
kelompok blok-blok lain.
Para Hvyt berpindah
ke hadapan mereka berlima sembari menjulurkan sebelah tangan mereka. “Pegang
tangan kami ketika kalian siap,” ucapannya mirip ketika para Hvyt menjemput mereka
di Jagatha Vadhi, “jangan berpikir panjang, kalian tak punya pilihan lain. Maju
atau mati.”
“Kalau begitu
kenapa pakai basa-basi bilang ‘ketika kalian siap?’” Si merah muda mendengus
meremehkan sembari meraih tengan Hvyt, kemudian mendadak lenyap seakan ditelan
udara kosong. Dilanjutkan oleh si topeng yang tak bayak bicara lalu tiba
gilirannya.
Ia maju, menyambut
juluran tangan Hvyt dan menggenggamnya. Kemudian sensasi perpindahan dari
Jagatha menuju Devasche Vadhi terjadi lagi. Perutnya seperti dikocok, seluruh
tubuhnya seakan disedot satu titik di dekat pusarnya, semua terombang-ambing
memusingkan, dan pandangannya mulai seperti mosaik. Zach memejamkan mata, ia
melayang dalam kehampaan ketika seluruh inderanya mati.Beberapa jenak kemudian
kakinya telah menjejak kembali dengan amat mendadak. Keseimbangannya goyah dan
bokongnya menghantam sesuatu yang keras lebih dulu.
“Ouch!” Mengaduh,
lalu merangkak duduk dan menyandarkan punggung pada dinding beton suatu
bangunan. Demon bertanduk satu itu menengadahkan kepala. Mendadak, sinar
keperakan membutakannya sejenak, sebelah tangan menyaring cahaya yang
tak tertutupi sebagian namun cukup untuk membuat pandangannya kembali normal.
Ketika ia mengintip
dari celah jemarinya, ia dapat melihat sebuah batu biru bersinar dengan temaram
di ujung tiang ramping yang cukup tinggi. Sinar lampu... jalan, rupanya. Ia tak
pernah melihat yang seperti ini di tempatnya dulu, jadi Zach menyimpulkan kalau
dia tidak sedang berada di tempat kelahirannya. Ia beringsut ke tembok untuk
berdiri, kedua tangannya menepuk celana dan ujung jasnya yang ditempeli debu.
Mata ungunya menatap sekitar, ternyata ia tengah berada di sebuah kota padat
perumahan. Tidak jauh berbeda dengan dunianya, jalanan dengan bata yang
tersusun rapi, atap bergenting merah, tembok perumahan yang tersusun dari
tumpukan bata dengan varian aneka warna merah.
Sinar temaram lampu
jalan berasal dari batu aneh mirip lapis biru namun pendarannya cukup untuk
menerangi pandangan—di sini masih malam menjelang subuh, ia rasa. Suara
serangga terdengar dari semak-semak pekarangan, bulan (ternyata di sini ada
juga) berpendar keperakan hingga pemuda demon itu merasa seakan berada di tempatnya,
Gnokgnis.
Ia melangkah dengan
pelan, suara ketukan pentofel hitamnya terdengar berirama. Dari
jendela-jendela rumah penduduk, ada beberapa yang bersinar oranye. Aroma
makanan terkuar dari beberapa rumah yang ia lewati, juga suara percikan minyak
yang tengah menggoreng sesuatu. Waktu sarapan telah dekat, begitu pikirnya
ketika warna biru keunguan di langit sana semakin surut menjadi lebih muda.
Beberapa pintu
menjeblak terbuka dan yang keluar pertama adalah manusia (bahkan di rumah besar
dan kesannya dimiliki oleh orang kaya), bukannya demon budak. Lalu ia yakin kalau
di tempat ini tak ada yang namanya perbudakan demon. Mungkin tempat ini
tidak buruk untuk ditinggali demon seperti dirinya—itu kalau manusia tidak
ketakutan lalu kabur setelah melihat tanduk dan telinganya yang runcing. Ia
terkekeh, menertawakan idenya yang menggelikan.
“Ouch!”
Zach kaget ketika
seorang gadis menyenggolnya, tubuhnya membatu di tempat.
“Kau kenapa?” Tanya
gadis lainnya.
“Ti—tidak,
sepertinya aku menabrak sesuatu,” ujar gadis yang menabraknya dengan tatapan
lurus padanya—walaupun nyatanya gadis itu tengah melihat ke arah tiang lampu
jalan.
“Sesuatu? Tidak ada
apa-apa di sana... hmm...” lalu gadis lainnya memasang wajah jahil,“sepertinya
kau menabrak roh Dragonov yang menghantui lapangan latihan dragon raider ini, awaaaass kutukan sembelit Lord Dragonov akan
menimpamuuuuu...” suaranya dibuat semisterius mungkin dengan kesepuluh jemari
yang bergerak seperti tentakel gurita.
“Jangan menggodaku!
Sudah ah, kita bisa telat memberi makan naga! Kau tahu bayi naga yang baru
lahir seminggu lalu itu amat manja. Ayo pergi sebelum kandang kebarakan
gara-gara mereka mulai merengek!”
Zach mendenguskan
napas lega. Nampaknya manusia di sini tak dapat melihat sosoknya, walaupun
ternyata mereka bisa menyentuhnya. Ada baiknya jika ia menghindari kerumunan
ramai agar tidak menimbulkan keributan. Lalu... apa tadi yang para gadis itu
bilang? Naga? Latihan dragon raider?
Zach menolehkan
pandangannya ke samping. Terdapat bangunan besar mirip sebuah tempat manusia biasanya
menonton pacuan kuda. Jadi... hm... di sini ada, naga? Makhluk imajiner yang
merupakan khayalan manusia di dunianya?
Lalu pemuda
bertanduk itu dikagetkanoleh suara raungan keras dan pilar api yang membumbung
tinggi, lebih tinggi daripada puncak bangunan ‘pacuan kuda’ itu sendiri.
Matanya terbelalak ngeri.
O—kay.
Zach berlalu, tak
mau ambil pusing—lebih tepatnya pura-pura tidak melihat apa yang terjadi
barusan.
Suasana pagi begitu
damai, sesekali terdengar celotehan orang-orang yang bercengekrama di pinggir
jalan, udara sepoi mengalir, juga suara burung penyanyi yang mulai berkicau.
Aneh rasanya kalau tempat ini merupakan arena pertarungan lima
orang yang tak terlihat penduduk. Namun sedetik kemudian ia mulai berlari
secepatnya ketika telinganya yang sensitif menangkap suara pertarungan. Intuisinya
menjerit kalau pertunjukan Thurqk telah dimulai.
***
Gadis itu menendang
barel kosong hingga menggelinding ke jalan turunan. Kesal, Lulu Chronoss
benar-benar kesal dan muak dengan teleportasi Hvyt yang menyebalkan. Ia
mendengus jijik pada tumpukan sampah yang digerumbungi lalat, satu lagi alasan
kenapa dia kesal pada makhluk merah bersayap hitam itu adalah lokasi
‘pendaratan’-nya di dunia antah berantah ini. Tempat pembuangan sampah kota.
Manis, manis sekali. Kenapa tidak sekalian Hvyt brengsek itu memindahkannya ke dalam gunungan sampah itu?
Manis, manis sekali. Kenapa tidak sekalian Hvyt brengsek itu memindahkannya ke dalam gunungan sampah itu?
Kupluk merah muda
kembali menutupi puncak kepalanya. Gadis itu berlari keluar tempat pembuangan
sampah secepatnya. Tak sudi seorang pewaris Chronoss seperti dirinya berada di
tempat menjijikkan seperti ini. Yuck.
Gadis itu bertumpu
pada kedua lututnya ketika telah cukup jauh berlari, napasnya berlomba dengan
peluh yang mulai menetes dari pelipisnya. Dia menarik napas panjang kemudian
menghembuskannya kembali hingga napasnya kembali normal. Ternyata ia berlari ke
salah satu gang kecil tempat perumahan yang bisa dibilang pinggiran, karena
banyak bangunan yang tidak kokoh lagi dengan warna tembok pudar berlumut. Tidak
sedikit yang terlihat kosong dan mulai ditumbuhi semak. Namun banyak aroma
makanan bergentayangan di sektiarnya, ia anggap masih ada orang yang tinggal di
sini. Dan lagi... akibat aroma tersebut, perutnya memulai orkestra pagi. Ah...
ternyata buah pohon rachta yang ia makan sebelumnya kurang banyak. Menyesal
gadis itu tidak membawa beberapa buah bersamanya.
Ia menyisir poninya
yang menutup pandangan dengan jari telunjuk kemudian kembali berjalan.
“Pagi, Nona
Chronoss.”
Lulu menggerung gemas
dengan sebelah kaki dihentakkan ke jalan.
Sial!
Lulu mengintip
lewat ekor matanya, dapat dilihat kalau yang memanggilnya barusan adalah
seorang paman—yeah, sudah kelihatan tua dan pembawaannya yang terasa amat
kolot—berambut cokelat bergelombang sebahu, dengan pakaian yang pastinya amat
janggal jika disandingkan dengan manusia di tempat ini (sepertinya Lulu perlu
bercermin agar tidak seenaknya menilai, ia pun terlihat out of place di sini). Sebuah keuntungan bagi lawannya untuk tahu
nama Lulu, karena hanya dirinya seorang yang merupakan kontestan perempuan—si
topeng terlalu blur akan gendernya,
anggap saja hermaprodit—di blok H dan namanya bukanlah nama unisex, terkesan
amat feminin (atau terlalu bocah, entahlah).
“Pagi juga, Paman,”
dan ledakan tawa menjadi respon pria tersebut. Lulu heran, namun gadis itu
segera menarik keluar tonfa kembarnya. Pegangan tonfa ia genggam erat-reat,
jempol berada di kenop, ujung pendek berada di depan dan ujung panjang di
belakang segaris dengan siku. Tanpa sadar Lulu telah memasang kuda-kuda
bersiaga.
“Bukankah kita
butuh perkenalan lebih dahulu?” Pria itu merentangkan kedua tangannya yang
sebelah kiri kosong, sedangkan yang kanan menggenggam sebuah senjata pemain anggar… tipe sabre?
Sebuah pedang
silindris tipis panjang yang runcing di ujungnya,
memiliki gagang seperti pedang para bajak laut.
Matanya terpaku
pada sabre pria itu dengan amat intens.
“Oh, jangan terlalu
tegang begitu Nona,” ia menarik sabre-nya lalu menyarungkannya kembali ke sisi
pinggangnya, “perkenalkan, Primo Trovare.”
“Kau sudah tahu
namaku, kan?”
“Bhahaha... yeah,
benar,” kembali Pria itu tertawa walau lebih pelan dari sebelumnya, “namun, ini
adalah kode etik duelis Nona, kuharap anda tidak keberatan untuk berkenalan,
hanya mengucapkan nama apa ruginya?”
“Lulu Lavatia
Magnara ‘del Chronoss,” gadis bertudung merah muda itu mendengus pelan, “sabre
yang bagus, kuarsa.”
“Sayang sekali sabre
ini bukan milikku,” ujarnya sambil berdecak sebal seakan tengah memarahi bilah sabre
yang berada di saping pinggangnya, “posisi awalku berada di gudang senjata—untungnya,
karena aku tak membawa sabre milikku, tapi tak kusangka kalau kualitasnya,
well... yeah mengecewakan.”
“Lalu, sekarang kau
mau apa, Paman?” Ia lebih senang memanggilnya begitu, toh nama tidak begitu
penting ketika lawannya sudah mati, kan?
“My, my... anak gadis harus lebih lembut,
Nona, kalau kau berada di tempat asalku mulutmu sudah dijejali cabai,
sepertinya kau tengah berada di usia pemberontakan, eh?” Primo menarik sabrenya,
“kau harusnya lebih menghargai orang yang lebih tua, Nona Chronoss,” lalu
mulutnya mulai merapalkan sesuatu dan bilah sabre itu berpendar keperakan
beberapa detik sebelum padam.
“Bisa kau tutup
mulut? Aku tak suka diceramahi pagi-pagi,” tukas Lulu ketika tonfa kanannya
berhasil ditahan oleh bilah tipis sabre Primo dengan amat janggal.
“Na’ah, cara halus tak akan berefek
padamu, kurasa,” Primo menghela napas, kemudian menebaskan sabrenya dengan amat
kuat hingga Lulu terpental beberapa kaki kebelakang. Gadis enam belas tahun itu
kaget, ia kebingungan karena bilah logam yang tipis itu terasa lebih solid dengan
amat ganjil. Apa ada hubungannya dengan pendaran putih yang menyelimuti sabrenya
tadi?
Belum sempat ia
selesai dengan kecamuk di benaknya, tubuh Primo lah yang kini berpendar putih
beberapa detik kemudian redup.
“Apa yang kau
lakukan?!” Lulu menyerbu dengan cepat, apapun cahaya putih itu ia merasa
sesuatu yang tidak menyenangkan. Tonfa
kanannya berhasil di tahan sabre, namun ia segera menepisnya ke kiri, menekuk sabre Primo
hingga tak dapat digerakan, lalu tonfa kirinya menghantam lengan kanan Primo
dengan sukses. Lulu hendak tersenyum pongah, namun ia sadar kalau tubuh
lawannya terasa amat keras. Lebih keras dari tubuh manusia normal.
Gadis itu lalu
mundur dua kali dengan lompatan, ekspresinya siaga.
“Yang kulakukan?
Tidak ada yang khusus selain memberkati bilah
sabre, juga tubuhku,” Primo tersenyum
santai hingga membuat Lulu merasa diremehkan, “oh aku juga punya sesuatu yang
dapat memudahkan jalanmu kembali pada-Nya.”
“Pada... siapa?”
Tanyanya dengan penekanan di kata ‘siapa’.
“Pada Tuhan, tentu
saja.”
“Thurqk maksudmu?”
“Oh bukan, Dia
lebih mulia daripada Thurkey itu, tidak Nona.”
“Lalu dengan cara
apa?”
“Absolve. Aku dapat membantumu mengampuni
dosa-dosamu... dan jiwamu akan langsung pergi ke sisi-Nya.”
“Aku diajari agar
tidak percaya dengan ucapan orang asing, terlebih lagi pria tua yang
mencurigakan sepertimu,” Lulu memutar-mutar tonfanya dengan gerakan cepat,
“lagipula, kenapa tak kau praktikkan pada jiwamu sendiri? Kurasa itu akan lebih
mudah, eh?” Gadis itu tersenyum timpang. Jelas sekali kalau lawannya ingin
menang dari pertarungan ini. Yeah, pria itu punya sesuatu yang dapat dikabulkan
oleh Thurqk, maka dari itu dia ingin menang. Untuk alasan itu pula Lulu
semakin tidak percaya pada pria itu dan Tuhannya.
Mana ada orang taat
pada Tuhannya namun berkompromi dengan Tuhan lain?
“My my... sepertinya kau benar-benar
ingin cara yang lebih sulit eh, Nona?” Primo mendesah muram, kemudian kembali
menyiagakan sabrenya dengan sebelah tangan berada di belakang.
“En garade,” Primo berujar pelan, "attaque!" Kemudian
dengan gerakan kaki duelis fencer yang lincah ia berhasil menyudutkan gadis
muda itu dengan tusukan demi tusukan sabre yang benar-benar tajam dan cepat.
Berkali-kali berhasil ditangkis, namun semakin lama rasanya sabre tipis itu
semakin keras. Lulu tidak suka ini. Ia mundur dengan cepat kemudian memunculkan
semacam bilah tajam pada ujung pendek tonfanya. Lalu ia menyerang
balik.
Kini kedua kakinya
ikut bekerja, ia menendangkan kaki kanan ke depan dengan cepat, menyabet
belakang lutut lawannya, berusaha untuk membuat sebelah kaki Primo berlutut di
jalan namun hasilnya tetap sama. Kaki itu seakan keras seperti batu, hingga
tendangan Lulu seperti tidak ada efeknya. Namun gadis itu tak berhenti, tonfa
kanan dan kirinya bergantian dipukulkan ke arah Primo, walaupun semuanya
berhasil ditangkis bilah sabre yang luar biasa keras. Nampaknya pria tua itu
benar-benar pemain anggar yang profesional. Kedua tulang kering Lulu merasakan
nyeri akibat menendang tubuh laksana batu, gadis itu menggeram dengan gemas kemudian
mengucapkan sesuatu dengan amat pelan.
Pertarungan itu
begitu cepat, bunyi hantaman tonfa dan bilah sabre tak lagi dapat
disembunyikan. Penghuni rumah di sekitar mulai berkeluaran sambil menatap dengan
heran pada udara kosong di tengah jalan yang mengeluarkan suara denting
hantaman logam.
Gadis itu tersudut
hingga punggungnya terantuk dinding. Ia mendecih kesal namun ekspresinya
berubah menjadi kaget ketika bilah sabre menancap di dinding tak jauh dari
telinga kirinya.
“Pengalaman sejalan
dengan umur, kau seharusnya tidak meremehkan paman ini, Nona Chornoss,” Primo
berucap pelan ketika wajah mereka tak lebih dari sepuluh centi. Lulu merasa
muak dan emosinya hampir meledak, namun ia berhasil meredamnya dengan menggigit
bibir bawah. Ekspresinya kembali normal dan ketika Lulu melihat melewati
pundak Primo, gadis itu tersenyum tipis.
“Sepertinya semakin
tua, semakin pongah orang tersebut, eh?” Ucap Lulu dengan nada yang anehnya
terdengar santai. Tonfa dijatuhkan ke jalan sedangkan kedua tangannya bertumpu
di tembok, lalu kedua kakinya terangkat dan dengan moentum antara tangan dan
tembok ia menendang tubuh Primo ke belakang dengan sekuat tenanga dan berhasil.
Tubuh itu terhuyung ke belakang bersamaan dengan sabre yang tercabut dari
dinding. Tidak hanya itu, tubuh Primo terluka seperti disayat-sayat oleh bilah
pisau tipis berkali-kali oleh sayatan tipis yang melintang diagonal dengan statis di udara.
Timed blade, itulah yang dilakukan Lulu. Ketika ia merasa semakin disudutkan serangan Primo dengan meninggalkan jejak sayatan tonfa di udara yang akan melukai siapapun yang menyentuhnya. Nampaknya Primo terlalu meremehkannya sehingga mengabaikan sayatan statis yang mengambang di udara. Nah, biar pria itu merasakan obat yang dibuatnya sendiri.
Suara gerungan
terdengar dari udara kosong—sudut pandang warga—kemudian suara jeritan manusia
terdengar sahut menyahut sebelum mereka berlari dari rumah masing-masing menuju
pusat kota.
Sebelah lututnya
ditumpukan ke jalan, Primo Trovare berlutut dengan luka sayatan di torso hingga
pinggang. Darah segar merembes dan membekas dengan jelas di pakaian putihnya,
sebagian menetes ke jalanan, rambut cokelatnya menutupi wajah yang ditekuk ke
bawah.
“Kau yang
seharusnya tidak meremehkanku hanya karena aku seorang gadis kecil, Paman,”
Lulu memungut senjatanya. Ia hendak langsung menyerang Primo dengan ujung runcing
tonfanya, namun berhenti karena kaget ketika melihat tubuhnya berpendar
kemerahan beberapa jenak sebelum kembali normal. Chronoss muda terdiam, lalu
tatapan menuduh ditimpakan pada Primo.
“Apa yang kau
lakukan?!”
“Aku benci ini,
tapi ternyata menyudutkanmu ke tembok terhitung sebuah dosa,” Primo tidak menjawab, ia sekan bicara pada dirinya sendiri.
Lulu tak mengerti ucapan dari Priomo namun ia tak punya intensi untuk menyerang
pria yang perlahan bangun itu saat ini, “Sayang sekali berkat dan dosa tak bisa
sejalan dan... mengutuk orang ternyata tidak terlalu buruk.
“Dosa... kesannya
lebih cocok untuk sebuah pertarungan, no?”
Primo beringsut berdiri dengan senyuman yang masih terpeta di wajahnya. Namun
dengan ganjil, Lulu merasakan senyuman lembut itu terasa amat jahat. Tidak
hanya itu, Lulu dikagetkan oleh pot pecah yang jatuh tak jauh darinya. Tak ayal
jika ia berada di sana, kepalanya akan berdarah dan lebih parah lagi pingsan.
Ditambah seekor kucing hitam melintas di depannya, supertisi di kerajaannya
tentang datangnya sebuah bencana.
Ia tak suka ini.
Seluruh tubuhnya berteriak kalau lawannya merupakan sumber bencana itu.
“Sayang sekali,
Nona Chronoss... keberuntunganmu
sudah habis,” Primo menantang dengan sabrenya.
Seberapa berdosakah engkau?
Sebuah bisikan
menyusup ke dalam jiwa gadis itu, lalu ia sadar telah melonggarkan
kewaspadaannya, namun semuanya telah terlambat.
***
Suara debuman keras
dan dua barel hancur membuat beberapa
orang melirik dengan kebingungan di tengah jalanan yang kosong. Awalnya mereka
hanya kebingungan, namun setelah beberapa gerobak hancur dengan sendirinya
warga mulai panik dan jeritan demi jeritan terdengar.
Zach berusaha untuk
berlari lebih cepat dari lawannya yang menutupi wajah dengan topeng. Awalnya
Zach telah sampai di tempat pertarungan antara seorang gadis bertudung merah
muda dengan pria berbaju putih, namun saat itu dirinya hanya mengamati dari
balik tembok sebuah rumah. Namun tak lama kemudian, sesosok berambut hitam bertopeng
mendadak menyerangnya tanpa basa-basi.
Kaget, Zach melompat
ke salah satu atap rumah dengan mudah untuk menghindar. Ia berseru agar si
topeng menahan serangan, namun nampaknya sosok itu tak selembut matanya yang
indah. Serangan bertubi-tubi dilancarkan dengan sebuah pedang yang
mendadak muncul di tangannya ketika sosok bertopeng itu melompat pada atap yang
sama.Pemuda demon itu
merasa tidak siap, maka dari itu ia berlari menjauh dari tempat pertarungan
gadis merah muda dan pria berpakaian putih.
Zach melompati satu atap rumah
ke atap lainnya tanpa usaha keras. Namun di sini amat terbuka sehingga sosok
itu dapat mengejarnya dengan mudah, lalu Zach melompat turun ke jalanan penuh
manusia. Berusaha untuk mendistraksi fokus lawannya, namun di tengah kerumunan
ini pun ia tetap terlihat—Zach mengutuk tinggi badannya yang diatas rata-rata
penduduk di sini. Dan lagi kebanyakan orang adalah wanita yang sedang
berbelanja yang mengenakan pakaian cerah, kontras dengan pakaian Zach yang
hitam.
Begitulah, sekarang
mereka bermain kejar-kejaran ditambah menghancurkan beberapa fasilitas. Dan
sekarang warga sekitar jalanan yang mereka lewati mulai panik.
Zach mendecih,
kemudian berbelok ke sebuah gang sepi. Sebelah tangannya menggenggam udara
kosong, lalu tombak kecubung muncul dari ketiadaan dalam genggamannya. Tubuhnya berotasi di tempat, kemudian Zach melemparkan tombak ungu itu pada sosok hitam bertopeng yang berada tak lebih dari tiga meter di
belakangnya. Namun tombak itu menembus udara dan menancap di tumpukan barel
kosong dengan suara yang nyaring. Bahunya diterjang oleh si topeng telah
lebih dulu menghindar dengan lompatan, kemudian Zach tersungkur ke jalanan
batu. Erangan tak dapat disembunyikan karena kepalanya terbentur lebih dulu.
Tubuhnya serasa
dikunci, ketika matanya terbuka lawannya telah menjepitkan kedua pahanya ke
samping tubuh Zach. Tangan kiri ikut terjepit walaupun nampaknya sosok
bertopeng itu tak ambil pusing dengan tangan kanan Zach yang tergeletak lesu di
jalan.
“Sayang sekali,”
suara itu lembut, amat jernih. Setidaknya lebih indah ketimbang raungan DeWitt
yang menjijkkan. Dapat dilihat dari celah topeng itu, mata dengan bulu lentik
menatapnya dengan intens—seakan berpikir, dengan cara apa Zach harus mati.
“Yeah, nampaknya
aku akan mati sekarang,” ucap Zach yang bernapas berat, “tapi setidaknya beri
tahu namamu sebelum itu, bisa?”
“Quin El-Fathin,”
ucapnya begitu pelan dengan ujung pedang yang terhunus di dekat tenggorokkan
Zach.
“Sayang sekali...,”
lalu tangan kirinya mencengkeram udara dan dari sana muncul bilah tombak ungu
yang dengan cepat dihujamkannya dari
punggung Quin yang tidak awas hingga tombak tajam itu tembus hingga dadanya,
“sayang sekali, padahal kau manis,” Zach paling tidak suka melawan perempuan,
terlebih yang seperti lawannya sekarang. Namun ia pun harus bertahan hidup di
sini, karena Thurqk nampaknya dapat mengabulkan hasrat terpendamnya.
Zach hendak
menyingkirkan tubuh Quin, namun yang digenggamnya malah asap hitam yang mulai
terurai.
“Ap—?!” Zach berguling
ke belakang mengikuti instingnya dan benar saja, bilah pedang telah tertancap
di jalan, dengan pemilik yang harusnya sudah mati ditembus tombaknya.
“Kau berpikir kalau
aku sudah mati?” Tanya Quin seraya mencabut pedangnya dari jalan, “kau harusnya
tidak membunuh musuh ketika menanyakan nama mereka, mana sopan santunmu Tuan,”
ucapnya seakan tengah merendahkan Zach.
“Zacharias
Eithelonen.”
“Eithel—apa?”
“Zach,” jeda
sejenak, “kalau mau lebih gampang, dan... yang tadi itu...”
“Apa? Oh
bayangkanku?”
Ternyata bayangan.
Namun terasa solid dan benar-benar dapat memukul. Sial, Zach mendapat lawan
yang merepotkan. Sepertinya jika ia tak segera melumpuhkan Quin, situasi akan
menjadi sangat jelek.
“Hey, Quin.”
“Apa?”
“Tidak, hanya
saja...” Zach menggelindingkan tombaknya ke samping seakan tengah mencoba jalan
damai.
Tapi tidak, ia
memadatkan udara di sekitar sepatunya lalu dihentakkan dengan kuat hingga
menimbulkan suara seperti pecahan beling. Dengan momentum tersebut ia menerjang Quin
yang nampak tidak siap dan kaget. Sebelah tangannya meremas kerah
baju target, kemudian menghantamkan tubuh kurus itu ke dinding beton di
belakangnya bersamaan dengan suara erangan singkat. Tanpa menunggu lama, Zach
segera mendekatkan mulutnya ke samping telinga Quin.
“You’re my prisoner,” bisiknya dengan amat mendamba pada sosok
tersebut.
Charm magic, dengan kondisi
lawan yang tidak waspada dan kesakitan seperti ini, tak ada wanita yang dapat
menangkis kekuatan charm magic Zach. Setidaknya dengan ini, wanita bertopeng
tersebut tidak akan menyerangnya dengan membabi buta seperti tadi. Zach menarik
wajahnya beberapa centi dari Quin, namun mendadak ia menyadari sesuatu yang
janggal. Ketika tangannya menekan dada wanita itu, ia merasakan kalau...
“...datar?” Zach
lalu meraba-raba dengan tidak percaya.
“Punya masalah
dengan itu?” Suara dari balik topeng itu sedikit teredam, namun jelas sekali
tersinggung. Disusul dengan sebuah tendangan yang mendarat di wajah Zach hingga
ia terpental beberapa kaki dari posisi semula.
“Kau...
laki-laki?!” Oke, Zach bahkan melinsankan rasa terkejutnya. Biasanya ia tak
pernah seperti ini.
“Punya masalah
dengan itu?!” Suara dari balik topeng itu makin lantang dan terdengar murka.
Pembawaan Quin yang tenang menjadi sedikit... garang. Tanpa disadari, nampaknya
Zach telah mengatakan hal yang tabu bagi pemuda—oke, pemuda! Ingat, pemuda!—itu.
Zach sadar ia tak
punya waktu lama untuk kaget karena lawannya kini menyerbu dengan pedangnya yang terhunus, bersamaan
dengan itu di tangannya yang lain Quin melemparkan sesuatu. Sesuatu yang amat
tipis, berkilau sesekali ketika tertimpa cahaya matahari yang mulai merangkak
naik. Zach berguling ke kiri, karena apapun sesuatu yang
berkilat tipis itu, yang pasti bukan kabar baik. Kilatan tipis itu mengikat
tiang lampu besi di sebelahnya dan langsung tercabut dari jalan ketika pemuda
bertopeng itu menariknya.
“Benang?” Tipis,
hampir tak kasat mata namun Zach yakin kalau benda itu adalah benang. Serius?
Ia harus menghindari sesuatu yang hampir tidak terlihat seperti itu?!
Pandangan matanya
ditajamkan, ia menoleh ke kanan dan kiri dengan begitu waspada. Lalu serangan
benang itu kembali mengejarnya, seakan punya pikiran sendiri untuk menjerat
Zach kedalam lilitan tipis yang mematikan.
Zach menempatkan
tangan kirinya ke depan, lalu memusatkan kekuatan magisnya di sana. Tak lama
kemudian kubah tipis seperti kaca menyelubunginya hingga benang itu terpental,
lalu kubah itu buyar. Tangan kanan Zach seakan mencengkeram udara kosong, lalu
dari sana memadatlah udara yang semakin lama berwarna ungu membentuk sebuah cakram.
Cakram ungu itu berputar dengan menggila seperti kesetanan lalu dilemparkannya
ke arah benang yang mengambang di udara. Cabikan singkat, dan benang terurai
menjadi serpihan kecil.
Heh, benang
tetaplah benang.
“Tch,” Quin kembali
pada strategi awalnya, serangan frontal. Ah, inilah yang menyusahkan. Walaupun
Zach cepat, lawannya tidak kalah cepat. Liar, seperti bayangan berkelebat yang
tak menunggu reaksi Zach untuk bertahan.
Demon bertanduk itu
butuh kewaspadaan ekstra untuk dapat menghindari serangan bertubi-tubi dari
lawan. Pedang pendek itu berdesis, dengan kilat-kilat kecil yang membuat Zach
yakin kalau pedang itu dialiri petir. Quin menyabetkan pedangnya seakan tengah mengamuk walaupun nyatanya amat berpola. Permainan kakinya begitu licin. Berkali-kali ia berhasil membuat Zach hampir berlutut di
jalan kalau saja kaki Quin sedikit lebih panjang.
Bilah pedang
berhasil menyerempet wajah dan tangan kiri Zach karena sekarang jangkauan pedang
lawannya menjadi lebih lebar. Cairan merah mengalir dari luka tersebut. Zach tersudut
hingga celah terbentuk dari pertahanannya yang goyah, pedang beraliran listrik
itu berhasil menyabet perut bagian kanannya—tidak dalam, walau tetap
menyakitkan. Kemudian sebelah kaki kurus Quin menjegal kaki Zach, kali ini
berhasil hingga pemuda yang lebih tinggi itu
terhempas ke jalanan untuk kedua kalinya.
Dapat ia bayangkan
kalau wajah dari balik topeng itu tengah tersenyum puas. Tangan berjemari
lentik itu mendarat di pundak Zach, beberapa saat kemudian kejutan listrik
bertenaga cukup tinggi mengalir deras ke tubuhnya. Percikan putih hilang timbul
di sekujur tubuhnya.
Lima, sepuluh detik
telah lewat, namun kejutan petir itu tidak terlalu mengganggu Zach.
“Kaget?” Ucap Zach
terdengar santai, walaupun ia merasakan kejut-kejut geli di sekujur tubuhnya, sebelah
tangan terentang menggenggam udara lalu tombak ametis muncul dari
ketiadaan, dikerubungi kilat-kilat ungu kecil yang berdesis.
“Tipuan petir? Aku
juga bisa,” dan saat itulah ia menghujamkan tombak ungunya ke arah pemuda
bertopeng itu secepat yang ia bisa.Walaupun hanya menyerempet bagian kiri
perutnya sebelum Quin melompat ke belakang dan sempat menahan tusukan tombak
Zach.
“Kejutan petirku
tak akan terlalu berpengaruh, tapi benda tajam berefek, kan?” Dapat didengarnya suara gerungan pelan lawan
dari balik topeng.
Keduanya merupakan
pengguna petir, nampaknya pertarungan ini akan imbang jika saja Zach punya
kecepatan super seperti lawannya. Walaupun keadaan nampaknya telah berbalik,
pemuda bertopeng itu cepat namun tidak terlalu kuat fisiknya. Ternyata luka
tusukan tombaknya lebih besar daripada yang ia kira.
Zach memadatkan
udara di sekitar kakinya lalu melompat dengan kecepatan tinggi ke arah pemuda
bertopeng. Kembali me-reka ulang kejadian beberapa saat lalu ketika Zach
mencengkeram kerah baju si pemakai topeng yang dihantamkan ke tembok bangunan.
Teknik yang dipakai dua kali pada lawan yang sama akan berkurang keefektifannya,
namun untuk lawan yang terluka nampaknya hal itu dapat diabaikan.
Zach mengangkat
tangan kirinya, tombak ametis-nya berkilau dengan kilat-kilat kecil ungu. Ia
yakin yang ada di hadapannya bukanlah bayangan karena bayangan akan memudar
ketika terluka dan yang ini tidak.
Ada untungnya ia
tidak terlalu banyak tahu orang-orang di sekitarnya—tahu nama sih, tapi apalah
bedanya. Kenapa? Karena tak kenal, maka tak sayang. Karena tak sayang, maka ia
tak akan segan-segan menghabisi orang asing.
Erangan halus
terdengar, aroma metalik terkuar dari tetesan darah, angin berhembus pelan. Tombak
di tangan terangkat, lalu ditebaskan ke udara di sebelah kirinya.
Tidak, ia tidak
menusuk tubuh lawannya.
Denting logam
beradu, keras dengan jejak percikan petir ungu di udara. Remasan tangannya di
kerah pakaian pemuda bertopeng itu lepas. Zach mendengus pelan ketika logam
tajam berbentuk seperti stalaktit meluncur di udara dengan kecepatan
tinggi.Zach menangkis logam itu lagi ketika hendak menghujam tubuhnya untuk
yang kedua kalinya. Dari ekor matanya, Zach mengerling ke arah Quin, yang ia
dapati adalah scene yang sama dengan
dirinya.
Tengah disasar oleh
logam tajam yang melayang di udara.
Ada dua logam
tajam, menyerang dua orang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Siapa gerangan
yang mengendalikannya?
Zach memutuskan
untuk meladeni logam tersebut, namun ia mengurungkan niatnya ketika logam itu
menghujam tiang besi. Logam tersebut mulai menyerap besi hingga logam melayang
itu menjadi semakin besar dan semakin mengerikan; duri-duri logam mulai tumbuh
seperti senjata morning star.
Ah... apa-apaan!
Zach berlari
menjauh, sedangkan Quin berlari berlawanan arah dengannya. Ia terus berlari ke
arah Barat secepat yang ia bisa. Sesekali Zach menengok ke belakang, melihat
apakah logam itu masih mengejarnya dan ternyata masih! Ia menggerung kesal lalu berlari sekitar lima menit menyeruak kerumunan. Akhirnya ia berhenti ketika
logam itu melayang tak bergerak beberapa meter di belakangnya, terlihat ingin
maju namun seakan ada yang membatasi untuk bergerak lebih dekat. Lalu logam itu
terbang menjauh dengan cepat, sekakan sudah puas mempermainkan Zach.
Demon bertanduk itu
menghela napas pelan, luka di perutnya sudah tidak teralalu perih. Sepertinya
mulai tertutup, terima kasih atas regenerasi selnya yang amat cepat. Goresan di
tangan dan wajahnya pun sudah kering. Ia
menarik napas dalam sembari menyandarkan punggungnya ke dinding sebuah toko
petasan dan kembang api yang anehnya buka di pagi hari. Ah peduli amat. Perlahan
ia merosot hingga berjongkok di samping kerumunan anak kecil yang ricuh membeli
petasan.
***
Ia menatap dua
orang yang tengah membuat keributan berada agak jauh dengannya, cukup untuk
membuatnya kesal karena telah mengacaukan ketertiban di tempat asalnya,
Dragonia. Ternyata Hvyt mengirimkannya kemari, ke tempat asalnya untuk
bertarung sampai mati. Mungkin terdengar konyol, namun menurutnya bukan masalah
yang begitu besar karena semua orang yang berada di Devasche Vadhi merupakan
jiwa yang telah mati—jadi, menurutnya tidak masalah untuk mematikan jiwa itu
satu kali lagi. Mungkin dengan begitu mereka akan dikirimkan ke tempat yang
lebih baik.
Namun dirinya punya
harapan lain. Harapan untuk hidup dan kembali ke tubuh aslinya. Maka dari itu,
ia akan bertahan dengan segenap tenaganya untuk tetap hidup. Ia tak punya
intensi untuk mengalah.
Petra Arcadia bosan
menunggu di Pilgrimage Road dan turnamen ini akan mempercepat keinginannya
untuk hidup kembali. Sekaligus dirinya dapat melatih teknik bertarung dalam
turnamen ini untuk persiapan membalas kelicikan Solvaros yang telah membunuhnya.
Dirinya tengah berdiri
di menara lonceng, salah satu tempat tinggi di Dragonia, setidaknya nomor dua
setelah kastel kerajaan. Ia menunggu beberapa jenak, setelah merasa cukup
dengan kelakuan dua orang yang bertarung itu. Arcadia dua puluh empat tahun itu
memerintahkan dua orb putih yang melayang di sekitarnya untuk menyerang dua
orang tersebut. Sebelum pergi, kedua orb itu berubah seperti ujung tombak tajam
yang terlalu panjang kemudian melesat menuju dua orang tersebut.
Dari jauh, dapat
dilihatnya kalau perseteruan itu terganggu dan keduanya berpencar ke arah yang
berlawanan. Walaupun demikian ia terus memerintahkan orb-nya mengejar dua orang
tersebut. Satu orang terus berada dalam jangkauan pandangannya, namun yang
lainnya berhasil bersembunyi ke dalam sebuah rumah. Jadi ia memusatkan
perhatiannya pada sosok berpakaian hitam yang semakin lama semakin kecil hingga
hampir terhapus dari pandangannya.
“Tsk,” ia berdecak
ketika orb-nya tidak dapat bergerak lebih jauh, sepertinya target telah keluar
dari radius satu kilometer. Ia mengerling lewat ekor matanya ke samping ketika
mendengar suara seseorang mendarat di sana, di atap bangunan tak jauh dari
menara lonceng. Petra mendengus sebelum memerintahkan kedua orb
kembali ke sisinya.
“Mainanmu oke
juga,” sebuah suara jernih seperti dentingan lonceng terdengar dari samping.
Petra memutar tubuhnnya tanpa rasa terkejut. Di hadapannya kini berdiri sosok yang
beberapa saat lalu dikejar oleh shape
shifting orb miliknya. Namun sayang sekali dia masuk ke dalam rumah
penduduk dan menghilang dari pandangannya. Gerakannya yang lincah, juga teramat
cepat, lihai mengendap-endap... hm... semacam assasin, eh?
“Terima kasih
Nona.”
“Serius, apa tidak
ada yang bisa mengenaliku sebagai lelaki dalam sekali lihat saja?” Suara dari
balik topeng itu seperti sudah bosan mengatakan kalimat itu. Petra cukup kaget,
walaupun ia hanya berdeham satu kali.
“Sejujurnya tidak, maafkan
sikapku kalau begitu...” Petra terdiam beberapa jenak seakan tengah memikirkan
panggilan yang tidak menyinggung.
“Quin El-Fathin,”
ucap sosok tersebut tanpa diminta, “kau bisa ganti panggilan ‘Nona’ itu
sekarang.”
“Ah dimana sopan
santunku,” jeda sejenak, “namaku Petra Arcadia.”
“Jadi kau yang
mengendalikan benda tajam itu, oh sekarang menjadi bulat, eh?” Quin berkata
sambil mengubah gelang hitam di tangannya menjadi pedang, “kurasa aku berhutang
terima kasih padamu,” imbuhnya.
“Hanya terima
kasih?” Petra pun melakukan hal yang sama, menarik dua katana, Moira dan
Mivune, yang tersimpan rapi di sarungnya. Kedua orb-nya pun berubah bentuk menjadi seperti katana miliknya. Julukan Gilgamesh si Tangan
Empat, tentu bukan hanya sekadar pajangan.
“Bagaimana dengan
sebuah pertarungan?” Quin menatap katana yang melayang di udara dengan amat
siaga. Dari jarak yang memang tidak terlalu jauh, Petra dapat melihat pakaian
hitam Quin terkoyak di bagian perut dan menghitam dengan ganjil. Akibat
pertarungan barusan, mungkin.
“Aku tidak melawan
seseorang yang terluka.”
“Oh kalau begitu
kau akan kaget dengan regenerasiku yang cepat,” Quin memasang kuda-kuda untuk
segera menyerang, “kalau kau tidak mau menyerang, diam dan mati dengan tenang.”
Quin melompat
dengan lincah dari atap rumah tersebut ke atap sebelah bangunan menara lonceng.
Petra juga melompat ke salah satu atap rumah penduduk dengan memerintahkan dua
katana yang melayang di dekatnya untuk mulai menyerang Quin.
“Kau bilang tak akan
menyerang orang yang terluka,” Quin menepis dua katana itu dengan mudah.
“Sebut saja
pertahanan diri, kau pun tak ingin mati karena mengasihani orang lain tentunya.”
“Oh untuk pertama
kalinya, aku setuju.”
Petra mendarat
dengan mulus di genting sebuah bangunan. Kemudian ia mengerling ke daerah
perumahan pinggiran yang telah menjadi daerah kumuh yang minim penduduk.
Bertarung di tempat itu nampaknya tidak akan mengganggu warga. Ia segera
berlari ke sana dengan cepat, Quin mengikutinya dari belakang dengan kecepatan
yang luar biasa dalam keadaan terluka. Hal ini membuat Petra yakin kalau ucapan
tentang regenerasi itu bukanlah bualan.
Pemuda pengguna
dual sword itu melomapat dari genting rumah ke jalan batu yang cukup lebar
diapit oleh perumahan kumuh. Ia berhenti berlari ketika telah sampai pada
tujuan. Tempat yang sunyi dengan bangunan reyot yang hampir rubuh, bahkan ada
yang telah rata dengan tanah. Semak mencuat dari jendela pecah dan sulur
merambat di dinding bukanlah pemandangan asing di sini. Hanya ada mereka
berdua, dengan senjata terhunus di depan mereka.
Ini akan menjadi
pertarungan hidup mati, Petra dapat melihat itu dari tatapan mata Quin yang
seakan meneriakkan kalau dirinya siap mati untuk menang.
Petra akan
menjawab tekad pemuda itu dengan senang hati. Ia menyerang Quin dengan kedua
katananya, Moira dan Mivune yang berpendar merah dan biru, seakan tidak ada
hari esok. Sabetan dua katananya menggila ditambah dengan dua katana yang
melayang di udara. Quin seakan diberondong empat lawan sekaligus.
Pemuda bertopeng
itu mundur tiga loncatan dengan cepat, membuat jarak antara mereka menjadi
semakin besar. Kemudian ia melemparkan sesuatu yang terlihat berkilau tipis,
namun Petra cukup gesit untuk menghindar. Lalu pemuda dengan rambut dikuncir
kebelakang itu berlari menyongsong Quin. Namun ia merasa ada yang tidak beres
dari arah samping, lalu segera sebelah tangannya bergerak menangkis sabetan
pedang yang datang dengan mendadak dari sebelahnya. Dalam sepersekian detik
yang terasa lambat, ia melihat mata indah itu dari balik dua lubang di topeng
putih, cukup untuk membuatnya terbelalak.
Petra terhempas ke
samping. Berguling di jalan satu kali kemudian menatap bergantian ke arah dua
Quin yang berdiri di kiri dan depannya.
“Heh, sepertinya
kau punya tipuan yang bagus juga,” Petra mengelap bulir keringat yang menetes
dari pelipisnya. Namun ia heran dengan pedang milik lawannya tersebut yang
tidak terserap oleh dua orb miliknya yang dapat menyerap logam. Pedang lawannya
jelas terbuat dari logam, tapi kenapa tidak bekerja? Oh... omong-omong soal orb
miliknya, kemana mereka?
Ia menoleh ke
belakang dan dia melihat kalau gagang katana yang melayang itu seperti terikat
oleh sesuatu, menggelinjang dan bergetar di tengah udara karena tak dapat
bergerak mendekati Petra. Sinar matahari membuat sesuatu yang membelit gagang
katana tersebut berkilau, amat tipis, namun cukup untuk menjelaskan benda apa
itu.
Oh apakah itu
benang? Sesuatu yang hampir tak terlihat itu ternyata benang?
Petra tak punya
banyak waktu untuk berpikir karena dua Quin menyerangnya secara bersamaan.
Ternyata cukup sulit menanganinya karena mereka adalah dua entitas yang
memiliki kemampuan yang sama.
Pedang milik
lawannya itu berkali-kali hampir menebasnya, terlebih lagi ketika pedang musuh mengeluarkan
suara percikan yang mirip petir dan jangkauan serangannya menjadi lebih panjang
dari yang seharusnya. Petra menangkis serangan demi serangan dengan gesit.
Percikan petir putih mengilat di tempat tumbukan pedang dan katana. Kali ini
Petra benar-benar tersudut oleh dua Quin
yang terus menghujaninya dengan serangan beraliran listrik.
Kejut-kejut di
tangan akibat benturan katananya dengan pedang lawan lumayan
mengganggu, membuat gerakan di pergelangan tangan menjadi kaku karena kesemutan.
Dari dalam benaknya, ia memerintahkan kedua orb itu menebas benang yang
mengikat gagang mereka lalu beberapa detik kemudian dua katana tambahan telah
membantunya bertarung.
Satu katana
berhasil menggores lengan salah satu Quin lalu asap hitam mengepul dari tubuh
lawannya yang terlihat seakan meledak di tempat. Quin lain kemudian mundur
beberapa langkah, mendecak kesal sambil melemparkan benang lagi pada Petra,
cukup untuk membuat pemuda bermata sipit itu menghentikan serangannya demi
mengoyak benang-benang tipis yang hampir tak terlihat itu yang ternyata tidak
sulit.
Serpihan benang
berkilau, mengambang perlahan sebelum jatuh ke jalan.
Petra memerintahkan
dua katana yang melayang di udara untuk menghujam Quin, dan hal itu lumayan
efektif karena Quin hanya dapat menebas satu katana sedangkan yang lainnya
berhasil membuat luka mengaga di sisi lain di perut Quin yang belum terluka,
kemudian lengan kiri, diakhiri pada paha kaki kanan.
Quin menggerung
kesal, dirinya kembali mundur ke belakang setelah menepis katana yang berhasil
melukainya kembali pada pemiliknya dengan pedangnya. Pemuda bertopeng itu sudah benar-benar terdesak, namun nampaknya
belum mau menyerah. Ia menjulurkan pedangnya lurus ke depan, kemudian dari ujung
pedang yang semakin ramai dialiri petir itu, muncul sebuah sinar yang seakan
terkonsentrasi menjadi padat lalu sekejap kemudian ditembakkan secara horizontal.
Laser bercahaya
putih yang dialirkan listrik itu berhasil membagi sebuah rumah menjadi dua
seperti pisau panas membelah mentega. Kekuatan yang amat berbahaya, namun Petra
tak gentar. Ia berlari menyongsong laser itu dengan senyum di wajahnya. Moira
dan Mivune di julurkan dari tangan kanan dan kirinya, bersiap menebas Quin.
Serangan laser? Oh
maaf, yori—pakaian perang—yang
tersembunyi di balik yukata ungunya tahan terhadap segala serangan panas berbentuk plasma, termasuk laser.
Petra berlari
menabrak laser seperti bukan masalah, membuat lawannya terlihat panik. Percikan
hebat listrik terlihat seperti kembang api di dada Petra. Quin berada tak lebih
dari satu meter, pemuda itu tak sempat sadar kalau kepala dan bagian tubuh lain
yang tak dilindungi yori tidak tahan
serangan laser. Petra menyerang secara frontal, memberikan kesan kalau tubuhnya
benar-benar anti laser, hingga Quin hanya memusatkan serangannya pada dada
Petra.
Ia berada amat dekat dengan Quin saat itu, kemudian Miura dan Mivune ditebaskannya ke
depan, meninggalkan jejak merah dan biru.
“Uagh!”
Topeng itu terbelah
ketika sebelah katana berhasil menghantamnya. Darah mengucur dari dada, raungan
kesakitan itu terdengar pilu. Matanya terbelalak, mulutnya memuntahkan cairan
amis merah seperti tanggul bocor. Dua katana, dua orb berdebum jatuh ke jalan
batu.
Tubuh Petra
berpendar kemerahan dan laser menembus dadanya.
Seberapa berdosa kah engkau?
Kata-kata itu
terngiang dalam kepalanya.Kelebat bayangan ketika ia membunuh lawannya yang
entah sudah berapa puluh orang, berputar dengan cepat di kepalanya sebelum
semua menjadi gelap.
***
Primo mendengus
pelan.
“Aku mengejar
seekor kucing saat ini dan apa yang kudapat?” Ia menatap lurus dari balik
tembok pada dua orang yang tengah bertarung. Seorang bertopeng yang
kelihatannya wanita (bukan Lulu... berarti, Quin? Nama yang cukup feminin,
kan?) juga satu lagi lelaki berpakaian ala manusia Timur jauh. Sama sekali
tidak ada tanda-tanda si merah muda itu di sini.
Lulu Chronoss,
bocah malang itu lari terbirit-birit entah kemana sekarang. Dengan cara yang
aneh gadis itu berlari dengan amat cepat meninggalkan Primo di belakang, ia
seakan diperlambat gerakannya oleh sesuatu.
Gadis yang dapat
bermain dengan waktu, benar-benar merepotkan.
Hm... sudahlah, tidak begitu penting juga toh kutukannya masih berlaku bagi gadis kasar itu, tinggal tunggu waktu saja ketidak beruntungan menggerogoti nasib Chronoss kecil secara perlahan.
Hm... sudahlah, tidak begitu penting juga toh kutukannya masih berlaku bagi gadis kasar itu, tinggal tunggu waktu saja ketidak beruntungan menggerogoti nasib Chronoss kecil secara perlahan.
Berkat dan kutukan.
Keberuntungan dan kesialan. Kekebalan dan kerapuhan. Dua kata yang amat
berkebalikan, bekerja dengan antagonis. Namun kekuatan itu bersinergi dengan
sebuah tubuh manuisa, tubuh mortal bernama Primo Trovare. Ialah penjelmaan
Helel yang diturunkan ke bumi karena kesombongannya. Kenapa? Entahlah, menurut
ingatan Helel-nya yang mulai terkuak dalam memori penerus keluarga Trovare, Helel
teramat cemburu terhadap manusia yang
menjadi tamu istimewa Tuhan dan bukan dirinya. Tapi itu dulu, yeah dulu...
sekarang dia benar-benar ingin menjadi suci dan kembali ke surga, bersama Tuhannya.
Dan ia akan
berhasil.
Kenapa? Karena
dirinya adalah Lucifer. Tak ada yang tidak mungkin baginya, pride-nya sebagai taruhan.
Melakukan rute
Fallen dengan menggunakan kutukan satu dua kali tak akan ada masalah, dirinya
hanya perlu melakukan kebajikan satu kali dan ia akan meninggalkan rute Fallen.
Kembali menjadi Primo Trovare yang normal, yang manusia, yang memiliki kuasa
untuk memilih jalur Divine atau Fallen.
Tentu akhirnya ia
akan memilih Divine untuk menjadi orang suci. Walaupun harus melakukan sesuatu
yang agak melenceng seperti berkompromi dengan Thurkey. Penyucian jiwa bisa
dilakukan kapan saja, walau harus digojlok kegelapan terlebih dahulu.
Langkah pertama
adalah menang dari turnamen konyol ini. Primo dengan senang hati memberikan
kejutan manis bagi Metatron yang telah membunuhnya.
Primo tersentak
dari lautan pikirannya ketika pria berpakaian ala manusia Timur jauh menghajar
secara membabi buta dengan dua pedangnya yang berpendar dwi warna. Primo
bersiul sambil berkata ‘wow’ pelan ketika melihat pemuda berpakaian ungu itu
berlari menerjang sinar putih yang terlihat memiliki kekuatan besar, asalnya dari
ujung pedang si pemakai topeng.
“My my... si topeng jelas akan kalah
kalau begini,” Primo mengurut dagunya, “Si Thurkey itu bilang untuk menampilkan
sesuatu yang menarik, bukan? Ah lagipula pria ungu itu terlihat berbayaha,” Primo tersenyum timpang,
kemudian mulutnya mulai merapalkan sesuatu.
“May the unfortunate soul enter your body and destroy
your soul from inside!
Arastray, sardreyardor, malagastro!”
Sebuah kutukan
telah dilancarkan dan diarahkan pada lelaki berbaju ungu. Primo membuka matanya
dengan senyum masih terkembang di sana. Sinar putih itu berhasil menembus tubuh
si manusia perkasa berbaju ungu yang berpendar kemerahan. Sayang sekali pedang
pendek pria itu tidak melukai lawannya, hanya satu yang mengenai topeng, itu
pun tidak hanya menyeababkan topeng terbelah.
Target yang terkena
kutukan darinya akan mengalami ketidak beruntungan juga kerapuhan. Tingkatnya bergantung
dengan kadar dosa target.
Jadi... seberapa berdosa kah engkau, wahai prajurit
berbaju ungu?
Sosok yang
topengnya terbelah terdiam menatap onggokan tubuh berlumuran darah di
hadapannya seakan tidak percaya telah mengalahkannya.
“Memang benar, kekuatanmu
tak akan cukup untuk mengalahkannya, jadi anggaplah aku tengah berbaik hati,”
Primo bermonolog sendiri. Namun sedetik kemudian ia mendengus pelan.
“Apakah ini
termasuk sebuah kebajikan?” Ia menatap langit sembari merentangkan kedua
tangannya lebar-lebar, seakan tengah berusaha meminta konfirmasi dari Tuhan. Ia
menolong satu orang hingga tidak jadi mati, ternyata ia telah melakukan
kebajikan tanpa disadarinya. Tch, dengan begini kutukannya pada Lulu Chronos
tercabut.
Biarlah, walaupun sekarang
dia kembali menjadi Primo Trovare yang belum memilih rute manapun. Tapi bukan
berarti ia tak bisa kembali mengutuk. Sudah dia bilang, pertarungan sarat akan
dosa dan memakai rute Fallen adalah keputusan yang bijak.
Perlahan Primo
menghampiri pria yang teronggok di jalan berkubang darah, setelah sosok
berpakaian hitam menjauh. Tubuh pria itu bergerak, kedua matanya mengerling ke
arah Primo.
“Tenang saja...,”
Primo berjongkok, kemudian telapak tangannya ditempelkan ke kening pria itu,
“...kematianmu tak akan sia-sia,” setidaknya untuk Primo.
“Aku akan
meringankan penderitaanmu,” ucap Primo, “akuilah dosamu dan aku akan membantumu
untuk kembali pada-Nya.”
Bohong. Namun suara
Primo terdengar amat syahdu seperti para pendeta yang tengah memberikan kuliah
rohani. “Satu kalimat pendek pun tak apa.”
Mulutnya yang
membiru perlahan terbuka dengan gemetar, “A-a-akku... t-telah mem-b..nuh—uhuk—”
darah yang mengental keluar dengan hebat dari mulutnya, “p—puluhan o—r..ng,”
batuk darah itu kian banyak dan tubuh pria itu berguncang hebat.
Primo tersenyum,
lalu dari permukaan tangan yang menempel di kening pria bermata sipit itu
muncul cahaya kemerahan.
“Moaning soldier in the rear
Chanting a spell to ease his scar
Don’t cry, don’t waste your tear
I’ll take you to the depth of fear”
Sebuah kutukan
lain.
Suaranya seperti
tengah membisikkan lulabi mimpi buruk. Tubuh pria bergelimang darah itu
berpendar kemerahan. Matanya terbelalak, seakan merasakan sakit yang lebih dari
pada ditembus sinar putih tadi.
Lalu... tubuh itu
diam.
Tergeletak, mati
seutuhnya.
Primo menatap
tangan kirinya yang membesar dan semakin membesar hingga membentuk cakar tajam
yang menghitam hingga ke pangkal lengannya. Ia mendesis karena tangannya terasa
membara beberapa jenak sebelum rasa itu digantikan oleh hangatnya pendar merah
yang mulai menyelimuti tangannya—cakarnya, sekarang lebih tepat disebut cakar.
“Maaf, tapi dosamu
tak termaafkan,” ucapnya dengan wajah terbias cahaya merah pendaran tangannya.
Condem, sebagai Lucifer sang Fallen Angel, Primo dapat mengutuk sebuah
jiwa setelah pengakuan dosa agar jiwanya tidak terampuni.
Satu jiwa jatuh ke
neraka. Satu tangan setan sebagai hadiahnya.
***
Hari semakin siang,
panas mulai membakar tengkuknya tanpa ampun. Zach mengelap keringatnya yang
mengucur deras karena pakaiannya yang serba panjang juga tertutup. Bulu-bulu
putih di sekitar kerahnya malah menambah rasa gatal yang berkali-kali datang.
Ia mendudukkan
dirinya di sebuah bangku taman. Dia sedang berada di taman kota, sambil
menatap danau yang membentang di hadapannya dengan saksama. Cukup untuk membuat
tubuhnya rileks walaupun sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berleha-leha. Hey! Mungkin ini adalah
kesempatan hidupnya yang terakhir, jadi setidaknya Zach ingin merasakan sedikit
kebebasan untuk bersantai, karena ia tak pernah punya kesempatan seperti ini
selama menjadi budak.
Lagipula... dia
punya tujuan untuk berdiam di tempat yang amat ini. Yeah, ia ingin memancing
kontestan untuk menghampirinya... terutama kontestan yang itu.
“Sebelahmu kosong?”
Sebuah suara
membuatnya tersentak, ia mengerling ke sebelah. Seorang pria berambut cokelat
dengan mata sebening laut menatapnya dengan senyum yang terlihat janggal. Mata
Zach menyipit, kemudian melompat berdiri.
“Wah... sikapmu
kurang sopan, Tuan.”
“Perlukan sopan
santun dalam pertarungan ini?” Zach terdiam sejenak, “Trovare?” Sebutnya dengan
nada menebak.
“Haha ternyata kau
punya keberuntungan yang cukup baik dalam menebak, aku Primo Trovare,” pria itu terkekeh, “dan
kau Tuan?”
“Eithelonen,
Zacharias Eithelonen,” jawabnya.
“Nah... bagaimana
kalau kita kurangi kadar keberuntunganmu.”
Ia melihat mulut
Primo mulai komat-kamit, ia tak dapat mendengarnya namun firasatnya tidak enak.
Lalu tak lama kemudian tubuhnya berpedar merah lalu padam. Rasa tidak aman
menyerangnya, sekujur tubuhnya terasa amat rapuh.
Seberapa berdosa kah engkau?
Lalu kelebatan
bayangan yang selalu ia kubur dalam-dalam muncul, berganti-ganti dengan cepat
seperti pemandangan di luar jendela kereta yang tengah berjalan.
Bisikan misterius
itu merasuki sukma. Melemahkan hasrat bertarungnya hingga membuat Zach tidak
awas. Tubuhnya limbung ke kiri hingga terjerembab ketika tersenggol manusia
yang kebetulan lewat, lalu sebelah tangannya terinjak sepatu kulit—injakan itu
terasa luar biasa keras seakan tubuhnya menjadi amat lembek, tanduknya terantuk
sesuatu yang begitu keras hingga kepalanya pening.
Agrh! Apapun kecuali tanduk!
Agrh! Apapun kecuali tanduk!
Zach melompat
berdiri, tatapannya semakin waspada walaupun ia tak yakin ingin bertarung
melawan pria berambut cokelat di hadapannya ini. Namun ia terus menyugesti
dirinya untuk terus maju. Setidaknya lebih baik mati melawan daripada pasrah.
“Mulai merasa tidak
beruntung?” Suara itu tenang, namun terasa mengancam. Sabre terjulur ke depan
dari tangan kanan, sedangkan tangan kirinya yang hitam dengan jemari seperti
cakar berpendar kemerahan. Satu kata untuk menggambarkan lawannya sekarang;
iblis.
Mungkin lebih
mengerikan dari itu.
Zach menyerbu,
berusaha menepis segala rasa tidak nyaman yang mulai menggerogoti hatinya.
Tombak kecubung muncul di tangan kanannya berkilau dengan petir ungu yang
hilang muncul. Zach melakukan gerakan menusuk ke depan, namun lawannya
menghindar dengan amat mudah, tidak hanya itu gerakan menghindarnya terlihat
elegan. Kaki lawannya bergerak dengan seperlunya, menghindar seperti tengah
berdansa. Tombaknya ditusukan, ditebaskan, juga diputar dan dihantamkan. Namun
tak ada satupun yang mengenai lawannya. Zach merasa kalau hari ini adalah hari
sialnya.
“Kenapa? Hanya itu
yang kau bisa?” Suaranya terdengar begitu santai, mungkin malah meremehkan Zach
yang sedari tadi tak dapat mendaratkan satu pun serangan padanya. Lalu dengan
gerakan kakinya yang begitu cepat, pria itu telah berada di samping Zach
dengan sabre terhunus.
“Tsk,” Zach
memadatkan udara di kakinya, melompat ke belakang dengan momentum yang besar
hingga sabre lawannya hanya berhasil menusuk udara. Namun ketika hendak
mendarat, ia terpeleset hingga tubuhnya terlontar tak terkendali ke belakang
hingga menghantam batang pohon.
Benar-benar sial!
Zach memadatkan
udara di tangannya, kemudian cakram ungu terbentuk dan mulai berputar.
Dilemparkannya ke depan pada lawannya, namun serangan itu malah berbalik
padanya ketika ada angin ribut mendadak bertiup ke arahnya. Zach menunduk, dan
cakram itu meninggalkan jejak goresan cukup dalam di batang pohon dua centi dari puncak kepalanya.
Primo tergelak, seakan tengah menyaksikan sebuah lawakan yang tidak begitu lucu. “Kau benar-benar sial, apakah kau punya dosa yang begitu besar?”
Zach tidak
memedulikan cemoohan itu, ia kembali menyerbu lawannya secara frontal dengan
tombak ametisnya. Namun hal itu adalah keputusan yang salah karena Primo mendapatkan
Zach di zona serangnya.
Ketika ia
menyingkir selangkah ke kiri untuk menghindari tusukan tombak pemuda bertanduk
ini, sabrenya teracung. Ia bergumam,“Attaque,”
pelan sebelum logam silindris tajam itu menembus lengan kirinya semudah menembus
gabus.
Lolongan keras
membuat beberapa orang di taman ini terjaga, sebagian di antara mereka ngeri
melihat cairan merah menetes dari tengah udara kosong ke jalanan. Kepanikan semakin
menjadi karena teriakan Zach terdengar cukup lama sebelum reda. Sabre dicabut, dada Zach ditendang hingga menghantam jalanan batu di belakangnya dengan terlentang. Sabre itu
ditebaskannya dengan cepat ke dada Zach dengan luka melintang diagonal dua kali
hingga terbentuklah luka seperti huruf ‘x’ di dada pemuda bertanduk itu.
Seperti kucing yang
tengah bermain-main dengan tikus sebelum mematahkan leher pengerat tersebut.
Begitulah yang dilakukan Primo sekarang. Padahal pria itu dapat dengan mudah
menusukan ujung sabrenya ke jantung Zach saat ini dan semuanya selesai. Namun
tidak, pria itu malah menjulurkan tangan kirinya yang mirip cakar yang
menghitam lalu mencekik leher Zach.
Bukan keras
cekikan itu yang membuat Zach terbelalak, namun kilasan-kilasan yang ingin ia
lupakan muncul semakin jelas di benaknya seakan ia tengah menonton drama
hidupnya dari bangku penonton.
“Ingatlah atas
dosa-dosamu,” bisikan Primo amat mengerikan, “ingat dan menderitalah
karenanya!”
Ia kembali saat
umurnya tujuh tahun, bersembunyi di semak-semak sambil menutup mulutnya
rapat-rapat. Mata ungunya menatap rumahnya yang terbakar dengan kedua orang
tuanya yang diseret para manusia pemburu demon. Ibunya jatuh ke tanah, diseret
dengan kaki ditarik paksa. Suara pilu ibunya yang meneriakkan nama pemuda
bertanduk itu terdengar pilu, meminta tolong padanya, namun ia diam saja di
semak menahan napas dengan air mata bergelimang di sisi wajahnya. Ia takut,
lalu ia berlari meninggalkan kedua orang tuanya yang sejak saat itu tak pernah
ditemuinya.
Umurnya dua puluh
saat itu, ketika ia memilih lari dari kejaran manusia yang menyerbu Cursed
Forest ketimbang menolong kakak perempuannya yang diserang manusia lelaki
dengan beringas. Semakin jelas di benaknya kala itu, raungan merana kakak
perempuannya yang diperlakukan tidak senonoh oleh lelaki manusia sebelum rumah mereka yang kedua di Cursed Forest dibakar bersama kakak perempuannya yang memilih untuk
mati. Ia begitu takut untuk dijadikan budak, ia begitu egois hingga
meninggalkan orang-orang yang disayanginya.
Pada akhirnya ia
ditangkap oleh manusia lalu dijadikan budak. Ironis. Kalau tahu begini
akhirnya, lebih baik dari dulu ia ditangkap dan tak perlu menabung dosa yang
membuatnya tak dapat memaafkan dirinya sendiri.
Sudah cukup.
Kenangan lain yang
menyakitkan datang silih berganti. Semua dosa kecil maupun besar berganti
dengan cepat. Lehernya panas, bukan karena cekikan yang semakin lama semakin
erat tapi kesedihan yang membuncah, rasa perih di hatinya membuat Zach hampir tak dapat mengingat tujuannya
bertarung. Seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya, matanya panas,
mulutnya terbuka menggumamkan kata ‘maaf’ berulang-ulang.
Sudah cukup!
“Sudah cukup? Di
saat seperti ini aku bisa melakukan condemn
pada jiwamu, tapi tidak... aku tak ingin menjadi iblis seutuhnya, jadi...
kurasa kubunuh saja kau saat ini hm?” Sabrenya teracung lurus menghadap
dadanya, tempat jantungnya berada. Namun Zach seakan tidak melihat itu.
“Sudah cukup...”
ujar Zach pelan ketika jeritan tertahan bersama semburan darah menciprati
wajahnya.
“Yeah sudah cukup,
Bayi Besar! Mau sampai kapan kau pasang wajah mengenaskan itu?!” Suara galak
perempuan seakan menarik Zach dari panggung drama dosanya kembali ke kenyataan,
gadis itu seakan muncul begitu saja di belakang Primo, “semua sudah
terkendali.”
Sosok merah muda
itu, Lulu Chronoss, dengan kedua ujung tajam tonfa-nya menghujam punggung Primo,
sembari menatap Zach dengan tatapan meremehkan. Primo menoleh ke belakang dengan
tersendat-sendat, ekspresi wajahnya benar-benar terkejut melihat gadis itu berada
di belakangnya. Lulu tidak menyiakan waktu menunggu Primo merapalkan mantra
yang dapat membuatnya sial lagi, dengan cepat ia memukul punggung Primo dengan
badan tonfanya, menjegal belakang lutut pria itu dengan kuat hinga jatuh terlentan ke jalan. Lulu menduduki perut
Primo, kemudian dengan beringas gadis itu menusukkan kedua ujung tajam tonfanya
ke daerah dada Primo tiga kali bersamaan dengan darah yang membuncah keluar seperti
tanggul bocor.
Primo tersedak
darah beberapa kali, namun Lulu tidak berhenti sampai situ. Kedua kakinya
mengunci leher Primo, lalu dengan suara patahan tulang yang terdengar keras,
Primo berhenti bernapas.
Zach terhempas ke
jalan dengan napas yang tersengal. Lulu berjalan ke sisinya, menendang tangan
Zach berkali-kali.
“Rencanamu
berhasil, Zach,” ucap Lulu dengan hembusan napas lega, “setidaknya paman
menyebalkan itu tidak bisa membuatku sial lagi.”
“Tapi sepertinya
kau menunggu dia membuatku babak belur dulu baru muncul,” Zach telah kembali
normal walaupun bayangan akan dosanya masih bergentayangan. Setidaknya ia
kembali fokus, tidak terjerumus ke dalam kilasan dosanya lagi. Mantra sial
Primo yang dilancarkan padanya pun sudah dipatahkan. Sama seperti gadis yang
berdiri di sampingnya.
“Heh, biar keadaan
kita sama kalau hanya tinggal kita berdua kontestan yang tersisa,” balas Lulu
dan memang tampangnya kini agak menyedihkan dengan pakaian compang-camping
akibat sabetan sabre Primo juga luka-luka tebasan dengan kedalaman bervariasi
di sekujur lengannya.
Awal pertemuan Zach
dengan Lulu akan terdengar amat konyol. Ketika Zach kembali ke depan bangunan
mirip pacuan kuda yang ternyata adalah lapangan latihan penunggang naga, ia
bertemu dengan seorang gadis merah muda yang nampak kacau. Gadis itu langsung
menyerangnya, walaupun berkali-kali kacau karena ada saja hal yang membuat
gadis itu celaka—mungkin istilahnya seperti tengah kena sial. Bahkan kulit pisang
menjadi senjata mematikan. Zach tidak perlu menggunakan banyak tenaga untuk
membuat gadis itu kewalahan.
Ia merasa kasihan
dengan gadis itu, walau tingkahnya agak barbar. Akhirnya, Zach merapalkan charm magic pada Lulu. Amat mudah,
mungkin karena Lulu sedang sial.
Zach memerintahkan
Lulu untuk tenang, walaupun ia tidak sepenuhnya menguasai Lulu seperti tengah
memainkan boneka. Ia menyisakan kesadaran pada Lulu sehingga gadis itu punya
pikiran dan kemauan sendiri. Dengan syarat, Lulu hanya boleh menyerang
kontestan lain kecuali Zach.
Satu lagi, charm magic ini akan sirna jika
kontestan tinggal mereka berdua atau Zach mati. Harusnya Lulu bisa membiarkan
Zach mati terlebih dahulu lalu membunuh Primo. Namun nampaknya charm magic ini
membuat Lulu memiliki sebuah ketergantungan kecil pada Zach.
Lulu membongkar
semua kemampuannya pada Zach (sedikit percikan charm magic berlaku di sin). Ia juga menceritaka awal bagaimana dia
bisa menjadi amat sial. Primo Trovare adalah penyebabnya. Namun
tak lama kemudian Lulu merasakan tubuhnya kembali normal dan kesialan entah
bagaimana terangkat darinya. Saat itulah Zach mendapat sebuah ide untuk
mengalahkan Primo terlebih dahulu karena merasa pria ini amat berbahaya. Yaitu
menjadikan dirinya sebagai umpan, sengaja menjadi target mantra sial Primo
dengan senang hati, sedangkan Lulu yang telah bebas dari kesialan akan menyerang
Primo ketika pria itu lengah.
Kemampuan
membekukan waktu selama dua detik milik Lulu terbukti amat berguna.
“Jadi tinggal
berapa?”
“Minus paman ini
dan pria berbaju ungu di kota sebelah sana,” ucap Lulu sambil menunjuk ke
sebuah tempat.
“Kau sempat
jalan-jalan dulu?!”
Lulu menjawab
pertanyaan itu dengan sebuah dengusan, “jadi tinggal kau, aku, dan wanita
bertopeng.”
“Dia laki-laki,
asal kau tahu.”
“Oh...”
Terjadi keheningan
sesaat.
“Jadi sekarang mau
kemana?” Tanya Lulu.
“Jelas, kan? Kita
akan memburu Quin.”
Walaupun Zach
bilang memburu, pemuda bertopeng itu tak kunjung ditemukan bahkan ketika
matahari mulai turun dan warna biru perlahan menjadi oranye. Ia dan Lulu telah
menyisir hampir seluruh kota namun hasilnya nihil. Merka berdua benar-benar
capai, keringat mengucur dengan deras. Mungkin ini adalah permainan petak umpet
paling luas yang pernah ia lakukan dengan area seluruh penjuru kota.
Zach duduk di
sebuah kursi di depan satu rumah penduduk, namun sesaat kemudian dirinya
dikagetkan dengan raungan keras tak jauh dari posisinya. Suara jeritan warga
terdengar sahut menyahut, manusia lari pontang-panting ke segala penjuru dan
dapat di lihatnya dari ujung perempatan jalan seratus meter di depannya Lulu
berlari ke arahnya dengan pandangan ngeri. Gadis itu seakan tengah dikejar
monster.
Dan hal itu tidak
jauh melenceng ketika dari perempatan yang sama, terbang rendah makhluk
mengerikan seperti kadal setinggi sepuluh meter, dengan sayap yang mengepak
liar menerbangkan beberapa pot dengan mudahnya.
Naga, kadal raksasa
bersayap dengan napas api dan yang paling mengejutkannya, penunggang naga itu
adalah Quin dengan paras yang begitu jelas tanpa topeng.
Quin melemparkan
benang ke arah kaki Lulu hingga gadis itu terjerembab dan tak dapat berkutik
karena energinya sudah teruras banyak. Sebelum Zach dapat bereaksi, semburan
api naga membakar tubuh Lulu yang tergeletak di tanah. Semburan itu
terkonsentrasi pada lulu, sekitar lima detik.
Suara raungan gadis
itu terdengar pilu, Zach berlari mendekat namun hal itu percuma karena beberapa
detik kemudian suara itu hilang bersamaan dengan padamnya api yang membakar
tubuh gadis itu.
Zach menatap tidak
percaya. Namun ia tak punya banyak waktu untuk kaget karena sekarang naga itu
melaju dengan kecepatan tinggi padanya.
***
Untuk apa
mengendalikan manusia jika ia dapat mengendalikan naga?
Pikiran itu muncul
ketika Quin masuk ke bangunan mirip stadium lapangan bola yang kemudian
diketahuinya sebagai tempat latihan penunggang naga. Quin melihat
makhluk menakjubkan itu di sana. Awalnya ia hanya ingin bersembunyi untuk
meregenerasi kulit tubuhnya yang terluka—walaupun ia tak yakin akan selesai
dalam satu hari. Tapi dirinya malah mendapat sebuah senjata mematikan untuk
melawan kontestan lain.
Seekor naga.
Kedua tangannya
sibuk menarik-narik benang untuk mengendalikan naga yang ditungganginya.
Paku-paku yang terlilit benang miliknya ditancapkan di beberapa bagian tubuh
naga. Kepala, ekor, dan di kedua sayap. Teknik pengendalian bonekanya
untuk makhluk sebesar ini ternyata lebih kompleks ketimbang manusia yang hanya
butuh satu paku yang ditancapkan ke bagian tubuh manapun. Namun hasilnya cukup
memuaskan karena sekarang dirinya tidak perlu bertarung menggunakan tenagannya
sendiri—karena pertarungan terakhir dengan Petra menghabiskan energinya,
ditambah lagi luka di perut dan kedua lengannya yang belum juga menutup akibat
serangan Petra. Yury—pedangnya—tak dapat dialiri listrik saat ini, karena telah mengeluarkan energi listrik terlalu banyak.
Quin menatap
sekilas jasad hangus Lulu Chronos, satu-satunya kontestan wanita di blok-nya,
kemudian menarik benang beberapa kali dan naga melaju dengan kecepatan penuh
menuju Zach.
Pemuda bertanduk
itu terlihat kaget kemudian mulai berlari. Quin tersenyum, walaupun dirinya
sempat tersudut oleh pemakai tombak ungu itu, namun sekarang giliran dirinya
untuk membuat Zach seperti binatang yang siap dimangsa. Angin membelah
rambutnya, menyentuh permukaan kulit wajahnya yang tidak tertutup topeng dengan
beringas. Belahan topengnya diikat di pinggang dengan dasi putihnya, ini
merupakan peninggbalan terakhir dari bibinya. Benda ini amat berharga, ia tak
akan membuangnya.
Ia menarik benang
pada paku di sayap kiri, kemudian naga melakukan manuver belokan tajam pada
sebuah tikungan di mana Zach berbelok. Semburan demi semburan api di lancarkan
naga tunggangannya namun Zach terlampau lincah dengan lompatan-lompatan zig-zag
dari satu atap rumah ke atap lainnya.
Quin melemparkan
benang-benangnya pada Zach, namun pemuda bertanduk itu membuat lapisan padat
udara sehingga benang itu terpental. Pemuda berambut hitam sebahu itu tidak
menyerah, semakin banyak benang yang ia lemparkan berkali-kali dapat ditahan
oleh lapisan padat udara Zach, namun ada satu yang berhasil memuntir kakinya
hingga Zach terjatuh dari atap hingga ke jalan.
Quin tidak
menyia-nyiakan kesempatan ini, semburan api keluar dari mulut naga. Semburan pertama
berhasil dihindari Zach, yang kedua pun sama bahkan kini benang yang melilit
kakinya telah diputus. Namun semburan ketiga berhasil mengenai punggungnnya
hingga pemuda itu terpental menabrak tembok dengan punggung terbakar. Sayangnya
yang terbakar hanya pakaiannya saja karena setelah itu Zach segera membuka
seluruh pakaian atasnya hingga kini telanjang dada. Pakaiannya diinjak-injak
hingga api padam lalu dipungut sebelum dirinya berlari ke gang sempit.
Sial, ternyata
kurang dan sekarang Quin tak dapat mendekati Zach karena gang itu terlalu
sempit untuk dilalui naganya. Naga tunggangannya lalu terbang rendah di atas
gang sempit, mata Quin memeriksa dengan saksama. Namun dirinya dikagetkan oleh
lontaran tombak ungu Zach yang berhasil
tertancap di dada naga. Raungan keras terdengar amat menggelegar.
“Tenang, tenang,”
Quin berusaha untuk menenangkan naga tunggangannya walaupun hal itu sulit,
namun dengan kemampuan pengendalian benangnya hal itu dapat diatasi. Kedua
tangan bagian depan naga menarik tombak yang menancap di dadanya namun tombak itu lenyap
begitu saja. Lalu lontaran tombak lainnya berhasil mengenai sayap bagian kiri,
lalu tombak itu lenyap lagi, dan serangan tombak berikutnya mengenai entah
bagian apa pada naga tunggangannya.
Nampaknya Zach
dapat memanggil tombak miliknya sesuka hati.
“Bagaimana mengusir
kecoak dari tempat sempit?” Quin menarik benang paku yang ditancapkan di
kepala, “dengan membakar tempat itu mungkin?”
Semburan api
terkonsentrasi pada gang sempit itu membuatnya menjadi parit api yang berhasil
mengusir Zach keluar dari ujung gang.
“Heh,” Quin
tersenyum timpang kemudian melajukan naganya mengejar Zach, namun dirinya tak
menyangka kalau pemuda bertanduk itu malah berbalik menyongsongnya. Zach
melompat di udara dengan aneh—ia menghentak udara seperti pijakan solid,
melompat tiga kali kemudian melemparkan jas hitam panjangnya juga kaus putihnya
yang setengah gosong ke arah naga hingga menutup matanya.
Naga yang
ditunggangi Quin mengamuk di udara, raungan membahana membuat beberapa penduduk
di bawahnya berlari kocar-kacir. Quin sibuk menarik pakaian Zach dari mata naga
tunggangannya, telat menyadari kalau Zach kini telah mendarat di punggung naga
tepat di belakangnya.
“Halo, Quin,”
bariton pemuda itu terdengar capai, napasnya ngos-ngosan dengan tombak ungu
teracung pada Quin.
“Sial.”
***
Mereka ada di atas
angin. Zach berusaha untuk menjaga keseimbangan pijakannya, ia bahkan harus
berjongkok dengan sebelah tangan dan lutut bertumpu pada punggung naga. Mata
ungunya yang terbias cahaya senja, menatap lawan di hadapannya dengan paras cantiknya
yang tengah memasang ekspresi sebal.
Bagian atas
tubuhnya tak berbalut apapun, terima kasih atas semburan api naga Quin. Angin
berhembus melewatinya, memberi kesejukan di bagian torsonya yang perih akibat
tebasan sabre Primo dengan bekas luka silang.
“Harusnya aku
langsung menancapkan tombakku waktu itu,” ucap Zach.
“Heh, jangan
menyalahkan yang telah lalu,” Quin meraih benang yang meliliti paku yang tertancap
di kedua sayap naga, entah kenapa.
Lalu, Zach terlontar
ketika naga melakukan manuver semi-vertikal ke atas, kedua tangan Zach
menggenggam ekor naga dengan susah payah karena tekanan angin yang begitu kencang.
Tangan kirinya yang ditembus sabre Primo meneriakkan protes, walaupun bagian
tulang tidak terkena, namun rasa nyilu-nya minta ampun. Wajahnya juga perih
akan tabrakan debu yang diperkeras akibat tekanan angin. Saat naga kembali
terbang secara horizontal, Zach baru sadar kalau sekarang dia berada di atas
awan. Ekspresi ngeri tak dapat disembunyikannya ketika ia melihat ke arah
bawah.
“Siap untuk terjun,
Zach?” ia mendongak, Quin—bayangannya—kini berdiri di dekat ekor naga kemudian
menginjak kedua tangan demon bertanduk satu ini kuat-kuat. Zach menggerung keras,
berusaha mempertahankan pegangannya, namun dia memutuskan untuk melepaskannya
ketika Quin memunculkan pedang dari gelang hitam.
Zach melayang di
udara, namun tidak lama karena dengan mudah ia menjejak angin dua kali, sebelum
mendarat kembali ke punggung naga. Ia berada dibelakang bayangan Zach kemudian
memunculkan tombak ungunya dan langsung menusukkannya ke tubuh bayangan yang
langsung terbuyar menjadi asap hitam.
“Tsk, ngotot
sekali,” Quin menggertu, kemudian mulai menarik-narik kembali benang yang
nampaknya menjadi sumber kendali si naga. Zach melihat hal tersebut lalu dengan
cepat ia memutuskan benang yang terhubung ke ekor dan kedua sayap. “Hei!” Quin
protes, namun Zach tak memedulikannya. Tinggal satu bagian lagi, benang paku di
kepala naga. Namun saat Zach hendak mendekat, Quin melompat berdiri dengan
pedangnya yang terhunus.
Tanpa banyak
bicara, Quin langsung menerjang ke depan menyabetkan pedangnya namun gerakannya
amat mudah dibaca. Mungkin karena luka menganga yang terlihat dari koyakan
pakaian Quin membuat kecepatannya menurun. Zach menangkis dengan tombaknya,
kemudian menarik Quin dengan tangan kiri—yang mana perihnya minta ampun,
kemudian mendorongnya ke belakang. Zach kemudian memutuskan benang yang terhubung
di kepala naga, disusul seruan panik Quin.
“Kau gila?! Kepala
adalah pusat pengendaliannya! Sekarang naga ini akan terbang sesukanya tanpa
dapat dikendalikan!”
Zach menyadari
kesalahan fatal yang baru diperbuatnya. Naga yang awalnya terbang santai kini
seperti linglung, seakan tidak sadar kalau telah terbang setinggi ini. Lalu
suara gerungan naga terdengar begitu keras, tangannya mengais-ngais kepala.
Nampaknya paku yang tertancap sangat mengganggunya.
Guncangan hebat
terjadi, naga terbang dengan tidak stabil. Lalu kadal bersayap itu menukik ke
bawah, amat tajam hampir vertikal sehingga Zach dan Quin terlontar ke belakang.
Mereka berdua berlomba-lomba memegang ekor naga. Namun naga yang telah sadar
merasa ada yang aneh dengan ekornya, ia mengibas-ngibas ekornya dengan ganas
hingga dua orang itu terlempar di udara dua ratus meter dari permukaan air.
Mereka akan terjun
ke danau!
Zach mencengkeram
pundak Quin yang tengah menggelepar di udara, hendak menghujamkan tombak plasma
petir berwarna ungu yang diciptakannya dengan kekuatan magis pada lawannya.
Mereka berhadap-hadapan sambil berputar di utara. Mereka terjun bebas tanpa
parasut dengan kecepatan tinggi.
Quin meronta sambil
menebaskan pedangnya dengan membabi buta ke arah Zach yang berhasil meninggalkan
sabetan melintang baru di dadanya yang lebih dalam daripada Primo. Erangan demi erangan
teredam tekanan udara yang begitu tinggi. Zach menepis pedang Quin, kemudian
ketika posisi Quin berada di bawahnya, dengan cepat ia melancarkan tombak petir
ungu itu ke dada Quin dengan cepat. Belum cukup, karena petir tidak begitu
berpengaruh pada Quin, Zach memanggil tombak ametisnya yang muncul di tangan kanannya.
Diarahkannya tombak ke
leher Quin, namun kekuatan orang yang terancam mati benar-benar luar biasa.
Zach kesulitan untuk menghujamkan tombak ke leher Quin karena tangan kurus itu
menahan tombaknya. Masalah lain muncul, permukaan danau terlihat semakin dekat, tidak
lebih dari lima puluh meter.
Lalu dengan kekuatan yang tersisa, ujung
sepatu Zach menghentak udara. Dengan momentum itu ia berhasil mengagetkan Quin
dan tekanan di tangannya semakin besar hingga tombak miliknya tertancap di
leher Quin yang membuat pemuda cantik itu terbelalak. Darah terciprat ke wajah Zach, sedangkan
tubuhnya semakin lemah.
Akibat hentakan
kakinya barusan, tubuhnya menghantam permukaan air danau yang kerasnya seperti
aspal.
Kepalanya pening
mendadak, dadanya sesak seakan tak dapat bernapas. Sekujur tubuhnya remuk
redam, pandangan matanya berkabut. Tubuhnya perlahan-lahan
tenggelam dalam air, jasad Quin mengambang di permukaan air darahnya membuat
lapisan merah tipis di air.
Zach kehabisan
napas, gelembung-gelembung tak lagi keluar dari mulut dan hidungnya.
Yang terakhir kali
diingatnya adalah matahari yang berwarna ungu akibat terbias darah Quin.
Lalu, pusaran gelap menyergapnya.
.
.
.
Zacharias Eithelonen—Round 1
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar